ZAKAT

Zakat Perusahaan Wujudkan Kemandirian Ekonomi Lewat Gerobak Bakso Bager di Jabodetabek

Zakat Perusahaan Wujudkan Kemandirian Ekonomi Lewat Gerobak Bakso Bager di Jabodetabek
Zakat Perusahaan Wujudkan Kemandirian Ekonomi Lewat Gerobak Bakso Bager di Jabodetabek

JAKARTA - Dompet Dhuafa bersama mitra kolaborasi PT Agrinesia Raya meluncurkan Program Bakso Bager (Bakso Gerobak) sebagai wujud pemanfaatan dana zakat untuk membuka pintu kemandirian ekonomi bagi kelompok penerima manfaat yang selama ini kesulitan memperoleh penghasilan tetap. Program ini dilaksanakan guna memberikan dukungan modal usaha dan pelatihan menyeluruh kepada delapan orang dari wilayah Tangerang, Bogor, dan Depok, yang diharapkan mampu menjadi solusi untuk memberdayakan ekonomi keluarga serta menjadi contoh bagi model pemberdayaan serupa di masa depan.

Di tengah tantangan ekonomi yang belum pulih sepenuhnya, terutama bagi kelompok usia yang tidak lagi produktif dan mereka yang kehilangan pekerjaan, program ini hadir sebagai salah satu jawaban nyata bagi mereka untuk kembali berdaya. Berangkat dari pemikiran bahwa gerobak bakso sederhana bisa menjadi titik tolak kebangkitan ekonomi, gerobak-gerobak tersebut bukan hanya sekadar alat jualan, melainkan simbol kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih stabil dan produktif.

Program Zakat yang Menjawab Tantangan Ekonomi

Program Bakso Bager yang digagas ini merupakan lanjutan kolaborasi Dompet Dhuafa dengan PT Agrinesia Raya yang telah terjalin sejak 2021 hingga awal 2026. Kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana dana zakat corporate bisa dimanfaatkan untuk program pemberdayaan ekonomi yang efektif dan berkelanjutan. Melalui pengelolaan dana zakat tersebut, Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan modal usaha berupa gerobak bakso lengkap dengan perlengkapannya kepada para penerima.

Metode pemberdayaan yang diterapkan dalam program ini tidak hanya berfokus pada penyerahan modal, tetapi juga menyertakan pendampingan intensif selama satu tahun penuh. Pendampingan ini meliputi pelatihan pengelolaan keuangan, kebersihan, pelayanan pelanggan, hingga tips dan teknik agar cita rasa bakso yang dijual bisa diterima dan disukai oleh masyarakat luas. Dengan demikian, program ini tidak sekadar memberikan bantuan sesaat, tetapi memampukan penerima manfaat untuk memiliki keterampilan usaha yang komprehensif dan berkelanjutan.

Harapan di Balik Gerobak Bager

Para penerima manfaat program ini datang dari latar belakang yang beragam, namun mereka memiliki kesamaan: semangat untuk bangkit dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga mereka. Salah satu di antara mereka, Rizal Sasrawijaya (49), mengungkapkan rasa syukur dan harapan besar setelah menjadi bagian dari program ini. Sebelumnya, Rizal bekerja sebagai seorang ahli kemudi di sebuah perusahaan, namun karena batasan usia ia harus berhenti bekerja dan kembali menjadi pekerja serabutan. Melalui kesempatan bergabung dengan Program Bakso Bager, Rizal kini mampu memandang masa depan dengan lebih optimis.

“Bersyukur sekali ternyata masih banyak kesempatan yang bisa dilakukan untuk tetap produktif dan berdaya kembali,” kata Rizal seusai menerima bantuan gerobak bakso. Pernyataan ini mencerminkan betapa pentingnya peran zakat dalam memberikan peluang bagi mereka yang terdampak perubahan ekonomi untuk kembali bangkit dan berkontribusi secara produktif di masyarakat.

Selain membantu modal usaha, program Bakso Bager juga membentuk semacam komunitas bisnis kecil di mana para penerima manfaat dapat saling berbagi pengalaman, saling memberi dukungan, serta memperkuat jaringan usaha masing-masing. Model ini diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan keterampilan individual, tetapi juga mendorong pertumbuhan usaha kelompok yang saling menguatkan satu sama lain.

Kolaborasi Zakat yang Berkelanjutan

Kepala Kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa, Armie Robi, menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga zakat dan pihak swasta seperti PT Agrinesia Raya dalam mengembangkan program pemberdayaan ekonomi. Dengan semakin banyaknya mitra yang turut berkontribusi, diharapkan jumlah gerobak yang bisa dibagikan kepada masyarakat akan terus meningkat. Hingga kini, jumlah gerobak yang sudah diberikan telah mencapai 60 unit, dan target ke depan adalah dapat menyalurkan hingga 120 gerobak bakso di wilayah Jabodetabek.

Armie menambahkan bahwa dukungan dari berbagai pihak, baik lembaga, komunitas, maupun individu, sangat diperlukan agar program-program seperti ini bisa berjalan lebih optimal dan memberi dampak lebih luas lagi. Pendekatan kemitraan seperti ini tidak hanya memaksimalkan penggunaan dana zakat, tetapi juga menciptakan multiplier effect yang memberdayakan banyak pihak secara langsung.

Menguatkan Kemandirian Ekonomi Melalui Pemberdayaan

Program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa melalui inisiatif seperti gerobak bakso Bager adalah bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengangkat harkat hidup mustahik serta menyasar pengentasan kemiskinan melalui pemberian akses modal dan kemampuan usaha yang memadai. Strategi ini sejalan dengan peran lembaga zakat modern dalam memberikan solusi nyata berbasis kemitraan dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, model program ini juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan zakat produktif lainnya yang mengutamakan pemberdayaan ketimbang sekadar penyaluran bantuan konsumtif. Dengan demikian, para penerima manfaat tidak lagi hanya menjadi penerima bantuan sekali saja, tetapi justru menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya.

Meski tampak sederhana, sebuah gerobak bakso telah menjadi simbol perubahan kehidupan bagi mereka yang pernah mengalami masa sulit. Melalui pendekatan pemberdayaan seperti ini, diharapkan lebih banyak keluarga Indonesia mampu berdikari dan memperbaiki kualitas hidupnya secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index