Mendorong Indonesia ke Puncak Ekonomi Hijau Lewat Proyek Baterai EV Terintegrasi MIND ID

Jumat, 06 Februari 2026 | 10:30:09 WIB

JAKARTA - Proyek pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi yang dikembangkan Grup MIND ID tengah dipandang sebagai titik balik dalam meningkatkan nilai ekonomi nasional. Inisiatif ini bukan sekadar memperluas rantai hilirisasi mineral, melainkan juga membuka peluang transformasi agar Indonesia tidak hanya mengolah bahan mentah, melainkan memprosesnya menjadi produk bernilai tinggi di seluruh tahap industri baterai EV.

Menurut Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Evvy Kartini, nilai tambah terbesar tidak lagi berada pada pengolahan mineral dasar. Ia menyampaikan bahwa bila Indonesia berhenti di tahap MHP (Mixed Hydroxide Precipitate), nilai tambahnya hanya sekitar 5 sampai 10 kali lipat. Namun demikian, jika negara ini berhasil menembus produksi prekursor, material katoda, dan baterai, nilai tambah itu bisa meningkat hingga lebih dari 100 kali lipat dari nilai awal mineral.

Pernyataan Evvy ini menjadi landasan kuat bahwa masuknya industri baterai EV pada tahap midstream dan downstream tidak hanya mengoptimalkan sumber daya alam, tetapi juga membawa dampak besar terhadap perekonomian nasional melalui penciptaan teknologi, lapangan kerja, serta kapasitas manufaktur yang mumpuni.

Potensi Industri Baterai Berbasis Nikel

Indonesia dikenal memiliki cadangan nikel yang melimpah, sehingga menjadi bahan baku utama dalam pengembangan baterai EV. Dalam kesempatan yang sama, Evvy menekankan bahwa fokus utama pengembangan industri ini harus tertuju pada baterai berbasis nikel manganese cobalt (NMC). Di samping karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri, baterai NMC juga memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi, yang berarti lebih efisien untuk dipakai di kendaraan listrik generasi lanjut.

Meskipun begitu, Evvy juga menyoroti pentingnya sinergi kebijakan antara pemerintah dan pelaku industri agar pertumbuhan ekosistem baterai tetap berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa pasar baterai EV harus diciptakan melalui kebijakan insentif yang tepat, terutama untuk kendaraan berbasis NMC, sehingga industri ini mampu tumbuh secara organik sekaligus mendukung hilirisasi yang lebih dalam.

Transformasi dari bahan mentah menjadi produk baterai lengkap bukan hanya soal nilai tambah ekonomi semata, tetapi juga upaya mewujudkan ketahanan teknologi dan kemandirian industri dalam negeri, yang selama ini menjadi impian banyak pemangku kepentingan di sektor energi dan manufaktur.

Investasi Besar untuk Kapasitas Produksi Global

Proyek ini bergerak jauh lebih luas dibanding sekadar perakitan baterai. Pemerintah dan mitra industri memastikan bahwa seluruh rantai dari pertambangan nikel, smelter, fasilitas HPAL, produksi prekursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai dilakukan secara terintegrasi di dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa total nilai investasi proyek ini mencapai sekitar USD 6 miliar atau setara Rp 100 triliun, dengan rencana perluasan kapasitas dari fasilitas awal berkapasitas 10 gigawatt (GW) untuk kemudian ditingkatkan dengan tambahan 20 GW. Hal ini menjadikan Indonesia bukan hanya pemain lokal, tetapi juga pesaing di rantai pasok baterai global.

Dengan peningkatan kapasitas produksi seperti ini, Indonesia diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus ekspor produk baterai EV ke luar negeri, sehingga semakin memperkuat posisi negara di persaingan industri energi bersih dunia.

Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja

Selain meningkatkan nilai produk dari hulu ke hilir, proyek baterai EV ini juga diperkirakan membawa dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Saat rantai nilai baterai diperluas secara nasional, investasi ini akan membuka berbagai peluang kerja di berbagai sektor, baik di industri pengolahan mineral maupun manufaktur baterai.

Berbagai sumber lain bahkan melaporkan bahwa proyek baterai EV berbasis MIND ID mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja baru, baik di fasilitas produksi baterai maupun industri pendukung lainnya, sehingga memberi dorongan signifikan bagi pembangunan ekonomi lokal di wilayah yang menjadi lokasi industri ini.

Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi mineral, memperkuat daya saing nasional, serta memaksimalkan kontribusi industri strategis dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Momentum Emas untuk Industri Nasional

Secara keseluruhan, proyek baterai EV terintegrasi oleh Grup MIND ID bukan hanya sebuah proyek industri biasa. Ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk menguasai salah satu sektor teknologi maju yang diprediksi menjadi pendorong utama ekonomi global di masa depan.

Dengan nilai tambah yang besar, potensi ekspor semakin kuat, serta dukungan kebijakan yang tepat dari pemerintah, Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pusat manufaktur baterai kendaraan listrik yang kompetitif di dunia.

Inilah momentum bagi Indonesia untuk bangkit dari ketergantungan bahan mentah mentah, menuju penguasaan penuh teknologi dan nilai produk akhir, serta meraih posisi strategis dalam era energi bersih dan ekonomi global yang semakin kompetitif.

Terkini